kalo kita bisa mengabadikan momen bersama, kita pasti lakuin yg terbaikkkk (baca: foto 4L4Y)
3>
Tapi buat kami, ya, aku dan pacarku. berbagi cerita tentang masa lalu sama aja dengan kita berbagi pengalaman dan pelajaran.
Kami membuatnya menjadi menyenangkan. Walaupun disisipi bumbu-bumbu kecemburuan, tapi semuanya cair,tentu aja karena kita tau kalo kita ya kita yang sekarang yang saling menyayangi *yuhuuuuuu~
Aku bete sih kadang-kadang hahahaha. Tapi semakin aku perhatiin ceritanya, semakin aku ngerti siapa dia dan bagaimana dia. Aku seneng sama segala keterbukaan yang kita punya sekarang. Semuanya jadi terasa ringan, nggak ada beban karena nggak ada yang ditutup-tutupi.
Pacarku itu konyol. huh. kekonyolannya kadang #eh sering bikin aku pengen jitakin dia sampe dia kurus. atau sampe rambutnya habis aku jambakin hahahaha
Kita itu sama-sama bawel dan absurd. alhasil kalo lagi ketemuan yang ada cuma ketawa sampe pipi dan perut kaku semua~ Lelucon dia itu sebenernya bikin kesel. mungkin kalo orang lain yg nggak kenal kita terus liat dan denger kita lagi ngobrol, mereka akan berpikir kalo kita lagi berantem hahaha :D
padahal yaa emang kaya gitu gaya pacarran kita. aneh. absurd. kadang-kadang nggak penting
Aku bersyukur selama perjalanan ceritaku sama dia, kita bisa dibilang jarang berantem walaupun sering cek-cok juga sihh.. yaa wajarlah, kata pacarku kalo ga berantem nanti nggak ada tantangannya -____- nyebelin kannnn >.<
Aku juga bersyukur, kita masih bisa sharing tentang apapun. mulai dari ngupil sampe politik hahaha :D mulai dari gosip tetangga sampe gosip artis. yahh begitulah kita menghabiskan waktu yang kita punya sekarang :'D
Maklum aja, kita dipertemukan nggak lama sebelum akhirnya bakal dipisahkan jarak lagi huhuhuhuhu *ceritanya lagi sedih*
Setiap celotehan yang keluar dari mulutnya itu nyebelin semua. Asli deh. Kalo orang yang denger itu nggak kenal dia, pasti dia ngira itu cowok nggak berperasaan hahaha :D
Pacarku itu aneh. Dia nunjukin sayangnya bukan dengan kata-kata romantis atau tindakan yang romantis. Semuanya aneh, semuanya ngeselin. tapi itu yang bikin aku makin sayang, bikin makin kangen dan nggak pernah bosen :p
Dengan caranya yang nggak biasa, aku selalu nunggu kekonyolan apalagi yang mau dia tunjukin ke aku. dia selalu bikin aku terlihat bodoh. Huh. Aku selalu berusaha terlihat pintar, tapi segala macem jurus bakal dia keluarin buat biikin aku kalah. Dasar orang keras kepala. hahahaha
dia bikin aku senyaman ini
dia bikin aku setegar ini
dia bikin aku nggak cengeng lagi
dia selalu kuatin aku
dia selalu support aku
dia selalu marahain aku
aku sayang dia dengan caranya yang konyol itu
Iloveyou, whoever you are <3 br="br">3>
berbagi segala yang sama-sama kita punya, dan yang tak kita punya
cerita tentang cinta
cerita tentang sayang
cerita tentang memiliki dan dimiliki
cerita tentang duka
cerita tentang tawa
cerita tentang haru
aku bahagia, inilah yang kupunya
aku mencintainya seberapapun acuhnya
aku mencintainya seberapapun dia mencintaiku yang tak melebihi cinta Allah
Oleh Melati Budi Srikandi ( MP 33 )
Lingkungan hidup dari waktu ke waktu semakin mengalami ancaman yang sangat serius dan kerusakan yang setiap saat berlalu semakin hari semakin bertambah parah. Kerusakan yang disebabkan oleh pola hidup yang tidak ramah lingkungan dari manusia merupakan penyebab kuat yang memberi andil terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Sebagai akibatnya, keseimbangan ekosistem menjadi terganggu. Hutan-hutan lindung yang seharusnya menjadi paru-paru kawasan, bahkan paru-paru dunia, di negara ini nilainya sudah sangat tidak berharga diperjual belikan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, hutan dibabat, ditebang, dan dihabisi tanpa mempedulikan dampak apa yang kemudian terjadi akibat dari pengrusakan hutan tersebut. Bencana banjir, longsor, kekeringan di musim kemarau, peningkatan pemanasan suhu atau dikenal juga dengan istilah global warming semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari.
Sayangnya walaupun kerusakan didepan mata sudah begitu mencolok, hal tersebut belum cukup untuk menjadikan kerusakan lingkungan itu sebagai pelajaran yang dapat menumbuhkan kepedulian dan perhatian di kalangan warga masyarakat pada umumnya. Upaya penyadaran dari berbagai aktivis dan pecinta lingkungan sudah mulai banyak dilakukan, dari seminar,pelatihan, pendidikan dan kegiatan-kegiatan lainnya terkait kampanye penyelamatan, perlindungan, dan pelestarian lingkungan. Hal ini tentu harus didukung dan semakin diperbanyak agar efek kegiatan yang dilakukan bisa semakin terasa pengaruhnya ditengah masyarakat.
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, baik itu dalam skala besar ataupun kecil pastinya tetap menyumbang emisi karbon bagi bumi ini. Beberapa waktu lalu Organisasi Pangan dan Pertanian melansir sebuah hasil riset yang menempatkan Indonesia sebagai perusak hutan tercepat di dunia. Laju kerusakan hutan kita, menurut data itu, adalah 2 persen dari total hutan nasional atau 1,87 juta hektar per tahun. Dengan kata lain, 51 kilometer persegi hutan kita rusak setiap hari. Dengan rusaknya hutan tropis Indonesia , baik akibat pembalakan liar maupun kebakaran hutan pastinya akan menambah jumlah karbondioksida (CO2) di udara. Bertambahnya konsentrasi CO2 ini jelas akan meningkatkan rata-rata suhu bumi. Masih menurut perhitungan para ahli, secara kasar, rata-rata suhu udara di dekat permukaan bumi meningkat sebesar 0,74 derajat Celcius selama satu abad terakhir. Tidak hanya Indonesia dan negara berkembang lainnya yang menyumbang emisi karbon, Negara maju pun demikian.
Indonesia sendiri, dahulu dikenal sebagai sebuah negeri yang subur. Negeri kepulauan yang membentang di sepanjang garis khatulistiwa yang beribarat untaian zamrud berkilauan sehingga membuat para penghuninya merasa tenang, nyaman, damai, dan makmur. Tanaman apa saja bisa tumbuh di sana. Bahkan tongkat kayu dan batupun bisa jadi tanaman – seperti lagunya Koes Plus yang berjudul Kolam Susu.
Namun, seiring dengan berkembangnya peradaban umat manusia, Indonesia tidak lagi nyaman untuk dihuni. Tanahnya jadi gersang dan tandus. Jangankan tongkat dan kayu, bibit unggul pun gagal tumbuh di Indonesia. Yang lebih menyedihkan, dari tahun ke tahun, Indonesia hanya menuai bencana. Banjir bandang, tanah longsor, tsunami, atau kekeringan seolah-olah sudah menjadi fenomena tahunan yang terus dan terus terjadi. Sementara itu, pembalakan hutan, perburuan satwa liar, pembakaran hutan, penebangan liar nyaris tak pernah luput dari agenda para perusak lingkungan. Ironisnya, para elite negeri ini seolah-olah menutup mata bahwa ulah manusia yang bertindak sewenang-wenang dalam memperlakukan lingkungan hidup bisa menjadi ancaman yang terus mengintai setiap saat.
Mengapa bencana demi bencana terus terjadi? Bukankah negeri ini sudah memiliki perangkat hukum yang jelas mengenai Pengelolaan Lingkungan Hidup ? Bukankah Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Pendidikan Nasional telah membangun kesepakatan bersama tentang pendidikan lingkungan hidup ? Namun, mengapa korban-korban masih terus berjatuhan akibat rusaknya lingkungan yang sudah berada pada titik nadir? Siapa yang mesti bertanggung jawab ketika bumi ini tidak lagi bersikap ramah terhadap penghuninya? Siapa yang harus disalahkan ketika bencana dan musibah datang beruntun menelan korban orang-orang tak berdosa? Pertanyaan panjang yang jawabannya akan panjang dan tidak mudah dilaksanakan.
Dewasa ini, agaknya hampir tidak ada lagi tanah di Indonesia yang nyaman bagi tanaman untuk tumbuh dengan subur. Mulai pelosok-pelosok dusun hingga perkotaan hanya menyisakan celah-celah tanah kerontang yang gersang, tandus, dan garang. Bahkan yang tumbuh bukan hutan tanaman, melainkan hutan beton dan hamparan semen yang menyulitkan penyerapan air. Di pelosok-pelosok dusun, berhektar-hektar hutan telah gundul, terbakar, dan terbabat habis sehingga tak ada tempat lagi untuk resapan air. Satwa liar pun telah kehilangan habitatnya. Sementara itu, di perkotaan telah tumbuh cerobong-cerobong asap yang ditanam kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Polusi tanah, air, dan udara benar-benar telah mengepung masyarakat perkotaan sehingga tak ada tempat lagi untuk bisa bernapas dengan bebas dan leluasa. Limbah rumah tangga dan industri makin memperparah kondisi tanah dan air di daerah perkotaan sehingga menjadi sarang yang nyaman bagi berbagai jenis penyakit yang bisa mengancam keselamatan manusia di sekitarnya.
Meskipun demikian, jika hanya mencari kambing hitam siapa yang bersalah dan siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan hidup bukanlah cara yang arif dan bijak. Lingkungan hidup merupakan persoalan bersama yang membutuhkan partisipasi semua elemen masyarakat untuk mengurus dan mengelolanya. Pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), semua warga masyarakat, dan komponen bangsa yang lain harus memiliki kemauan yang kuat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan hidup dari ulah tangan jahil para penjahat lingkungan. Hal itu harus dibarengi dengan tindakan hukum yang tegas terhadap pelaku kejahatan lingkungan hidup yang dengan kasat mata telah terbukti menyengsarakan banyak umat manusia. Sopir hukum harus benar-benar mampu mengendalikan dan mengarahkan para penjahat lingkungan hidup kedepan sangsi hukum yang setimpal untuk memberikan efek jera sekaligus memberikan pelajaran bagi penjahat yang lain.
Yang tidak kalah penting, harus ada upaya serius untuk membudayakan cinta lingkungan hidup melalui dunia pendidikan. Institusi pendidikan harus menjadi benteng yang tangguh untuk menanamkan nilai-nilai budaya cinta lingkungan hidup kepada anak-anak bangsa yang kini tengah gencar menuntut ilmu. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat perlu terus digali dan dikembangkan secara nyata untuk selanjutnya disemaikan ke dalam dunia pendidikan melalui proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Pola dan gaya penyajiannya pun tidak bercorak teoretis seperti orang berkhotbah, tetapi harus lebih interaktif dengan mengajak siswa didik untuk berdiskusi dan bertukar pikiran melalui topik-topik lingkungan hidup yang menarik dan menantang. Lingkungan hidup yang disemaikan melalui dunia pendidikan tidak harus menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi disajikan dalam selingan – selingan mata pelajaran melalui pokok-pokok bahasan yang sesuai. Dengan kata lain, lingkungan hidup tidak cukup hanya menjadi tanggung jawab guru Geografi atau IPA saja, tetapi harus menjadi tanggung jawab semua guru mata pelajaran.
Budaya mencintai lingkungan hidup ini perlu dikembangkan khususnya dalam dunia pendidikan karena jutaan anak bangsa kini tengah gencar menuntut ilmu di bangku pendidikan. Merekalah yang nantinya akan menjadi penentu kebijakan mengenai penanganan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Menanamkan nilai-nilai budaya cinta lingkungan hidup kepada anak-anak bangsa melalui bangku pendidikan sama saja menyelamatkan lingkungan hidup dari kerusakan yang makin parah. Dan itu harus dimulai sekarang juga. Depdiknas yang memiliki wewenang untuk menentukan kebijakan harus secepatnya mensosialisasikan agar dunia pendidikan kita mampu melahirkan generasi masa depan yang sadar lingkungan dan memiliki kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsanya.(mel)
Tentang semua tingkah lakumu
Maunya selalu mengatur aku
Tapi kau sangat perhatian
Apa pun yang aku lakukan
Kau ingatkanku jangan lupa makan
Karena kamu selalu loveable buat aku
Karena kamu selalu loveable buat aku
Karena kamu selalu loveable buat aku
Karena kamu selalu loveable buat aku..
Walau pun kamu sangat bawel
Kau kometar ini itu
Dan ku tak tahu apa maumu
Kadang bajuku kurang rapi
Kadang sepatuku kurang matching
Atau rambutku yang berantakan
Tak pernah ku merasa
Bosan dengan kamu
Jangan engkau lupa
Apa pun tentang kamu
Loveable buat aku
Loveable buat aku...
Loveable buat aku
(Buat aku)
Karena kamu selalu loveable buat aku
(Buat aku)
Loveable buat aku
Karena kamu selalu loveable buat aku
Karena kamu selalu loveable buat aku
Karena kamu selalu loveable buat aku
bagaikan tetesan hujan di batasnya kemarau
berikan kesejukan yg lama tak kunjung datang
menghapus dahaga jiwaku akan cinta sejati
betapa sempurna dirimu di mata hatiku
tak pernah kurasakan damai sedamai bersamamu
tak ada yg bisa yg mungkin kan mengganti tempatmu
kau membuat ku merasa hebat
karena ketulusan cintamu
ku merasa teristimewa hanya
hanya karena, karena cinta
kau beri padaku sepenuhnya
buatku selalu merasa berarti
kini ku merasa hebat
karena kau yang membuatku makin kuat
jantungku bergerak cepat
semua yg berat bisa lewat
inikah cinta yg sejati
melayang ku terbang berenang di awan
tak akan kita kan lepas dan jatuh sekarang
cinta, sang cinta, kita kan terus mencinta

Mungkin hari itu terlalu malam untuk membuka kembali mata dan mengatur nafas serta mengaduk otak dan memikirkan hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Bahkan terlalu indah untuk dibayangkan. Tapi itu terjadi kepadaku. Dengan kondisi mata yang hanya tinggal segaris dan konsentrasi yang tak lagi seratus persen, aku seolah tersambar petir, jderrrrr !! Lidahku kaku, seuntai kalimat saja terasa berat keluar dari kerongkonganku. Memimpikan hal ini pun aku tak berani. Sungguh tak berani.
Malam itu aku kembali terjaga dari keterlelapanku. Entah perasaan apa namanya. Sebelumnya aku ingin mengingkari ini. Aku tak ingin ‘sakit’ kembali. Aku terlalu takut, bahkan berharap sekalipun. Tetapi seseorang membuat kebekuanku mencair. Entah dengan kekuatan apa ia membuatku luluh.
Setiap kata dari bibirnya selalu mampu membuatku tersenyum simpul. Selalu mampu menerbangkanku seolah aku lah yang paling indah. Tapi kata – kata yang ia lontarkan malam itu sempat membuatku terdiam, tak hanya untuk beberapa menit, tetapi bermenit – menit. “ Mau nggak jalan –jalan dihatiku ? aku serius lohh, bukan bercanda.” begitulah kira –kira. Sederhana ? ya, sangat sederhana. Tapi tidak untukku. Kalimat itu terdengar indah bagiku ‘Sang Ratu Galau’. Hahahaha :D * julukan dari teman –temanku untukku *
Jawabannya pun tak segera kupikirkan. Aku kira ini mimpi. Bahkan aku hanya benar – benar terdiam. Sepuluh menit, limabelas menit, duapuluh menit, dan kira – kira tigapuluh menit kemudian aku baru bisa menjawab pertanyaan sederhana itu. “iya, aku mau ikut jalan – jalan kehatimu.” Apa aku menjawab sambil mengigau ? hahahaha tentu tidak. Aku sangat sadar, sangat – sangat sadar.
Ini bukan mimpi, dan ini bukan lagi harapan semu. Ya. Dia milikku sekarang. Lutfi Fajar Taufan. Membuatku berkata “ya”. Membuat kebekuanku mencair. Membuat traumaku memudar, bahkan hilang. Membuatku selalu tersenyum. Membuatku selalu tertawa. Membuatku bahagia. Dan membuatku selalu nyaman, merasa aman di dekatnya. Dialah pemilik separuh hatiku. Ya, dia harus berbagi tempat dengan kedua orang tuaku di dalem sini *nunjuk hati*
Terimakasih. Terimakasih sudah membuat aku sebahagia ini. Terimakasih sudah membuat aku merasakan hal yang nggak pernah aku rasain sebelumnya kaya gini. Terimakasih sejauh ini sudah mau menjadi yang terbaik dan terindah di dalem sini *nunjuk hati*
Iloveyou :*
yang jelas aku bahagia, sangat bahagiaaaa :D
punya ceritaku yang baru, tanpa hari galau hahahaha
yang ada cuma ngakaaakkk setiap hari
semangat setiap hari dan sakit perut setiap hari *efek ngakak :P
sekarang waktunya jalani hari dengan lebih bermakna.
kalo dipikir - pikir konyol juga deh yaa galau bertahun - tahun gitu -_-
hahahahaha
yokk move on !!!
makasih sayang udah buat aku seneng tiap hari :D
udah buat ndak galau lagiiii :DD
semoga selamanya gini yaa, insyaallah, amin :DD
hehehehe
kumulai langkahku
dan akan kumulai hariku
dengan cerita baru
kisah baru
di jalan ini akan kuwarnai hariku, hatiku :D
setiap nafasku, doaku untukku, untukmu dan untuk kita :)

Aku memang nggak seberuntung orang lain dalam hal cinta.
Tapi, aku pasti lebih beruntung daripada mereka dalam hal persahabatan.
Sahabat sangat berarti. Sahabat sangat berpengaruh dalam hidupku. Dalam hal apapun !
Aku bersyukur punya mereka, yang mau menampung air mataku, menerima muncratan tawaku dan desahan gundahku.
Bagi mereka, pasti ini nggak penting. Tapi mereka selalu ada. Nggak peduli kapanpun itu.
Aku berusaha memberikan semuanya, semampuku, sekuat tenagaku untuk mereka. Karena mereka pun melakukan hal yang sama untukku.
Mereka yang bisa buat aku kuat dan tetap berdiri sampai sekarang.
Maaf, aku punya banyak salah…
Banyakk sekali. Aku jorok, cerewet, jahat.
Maaf kalu aku selalu ngadu ke kalian. Bahkan hal yang nggak penting sekalipun. Makasih juga kalian masih mau denger semua, semuanyaaa, semua hal nggak penting dalam hidupku. Aku selalu ngerepotin kalian dengan cerita – cerita dan masalah-masalahku yang nggak pernah ada habisnya.
But, I love you guys, more than that you know
Jangan bosen yahh….
:*
Oyaaa…
Siapapun yang nyakitin sahabatku, kamu, kalian atau apalah itu, berhadapan sama aku !
MELATI BUDI SRIKANDI --- rawrr
Matahari mulai tinggi, panas matahari tak bersahabat, bahkan sangat menyengat. Rambutnya kemerahan, kulitnya tak lagi sawo matang. Ipung tak peduli, ia dan teman – temannya tetap menjalankan rutinitasnya. Kecrekan kesayangannya itu tak pernah ketinggalan, karena itulah caranya mendapatkan uang. Tak jarang ia juga harus meninggalkan bangku sekolah untuk mengamen bersama sahabatnya , Totok, di perempatan Gatot Subroto – Cokroaminoto, atau kadang di pertigaan Cokroamino - Maruti dan tempat – tempat ramai lainnya. Ipung tahu kalau perbuatannya dan teman – temannya ini mengganggu lalu lintas jalan protokol di Denpasar yang sudah sangat padat.
“ …..engkau bukanlah segalaku, bukan tempat tuk hentikan langkahku. Usai sudah semua berlalu, biar hujan menghapus jejakmu…”, begitulah sepenggal lirik yang dinyanyikannya bersama Totok, seolah ia mengerti akan lirik yang diucapkannya.
Mobil berganti mobil, motor berganti motor. Matahari mulai kembali ke peraduannya. Ipung dan Totok pun kembali pulang.
“Dapat berapa hari ini Pung ? “ tanyaku padanya, yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang.
“ Cuma limabelas ribu tigaratus kak. ” Jawabnya dengan suara lirih.
“ Terus apa kata bapakmu nanti kalau kau hanya membawa uang segitu ?” lanjutku.
“ Yah, paling – paling bapak hanya menerima saja hasil kerjaku hari ini , bapak nggak pernah menuntut banyak. “ tukasnya dengan bibir tersungging.
Pagi kembali menjelang. Pukul 05.00 pagi Ipung sudah terjaga. Dalam gubuk reyotnya, ia tinggal bersama ayah, ibu dan seorang adik perempuannya yang masih berusia 3 tahun. Hari ini ia bimbang, antara sekolah atau mengamen. Agar tak mengecewakan orangtuanya, Ipung berangkat menggunakan seragam sekolah, begitu juga dengan Totok.
“ Tok , hari ini kita sekolah atau ngamen ya?” tanyanya bingung.
“ Kita ngamen sajalah , ibuku sedang butuh obat.” keluh Totok. Dan akhirnya, mereka memilih untuk mengamen hari ini.
Dengan kecrekan bututnya, ia kembali melantunkan suaranya yang agak merdu dengan lirik yang tak beraturan. Koin limaratus rupiah, duaratus rupiah, bahkan seratus rupiah tak ditolaknya. Tapi tak jarang juga ia mendapatkan lembaran uang seribuan , duaribuan bahkan limaribuan. Dan kata syukur yang terucap dari bibir mungilnya.
Matahari mulai sembuyi, sebelum Ipung dan Totok kembali pulang, mereka menyempatkan diri mampir ke rumah salah satu teman sekelas mereka untuk menanyakan pelajaran yang telah mereka lewatkan hari ini. Sampai dirumah, Ipung membolak – balik buku matematikanya. Mempelajari satu demi satu materi pelajaran yang ia sukai itu. Tugas-tugas sekolah diselesaikannya dengan rapi.
Keesokan harinya, Ipung memilih untuk pergi sekolah, setelah kemarin ia absen. Guru-guru di sekolahnya mengerti keadaan Ipung, walaupun sangat disayangkan kalau ia harus meninggalkan bangku sekolah demi mencari uang. Matahari yang marah memanggang tubuh-tubuh mungil yang mulai mempertunjukkan suara dan serta merta menengadahkan tangannya. Dalam hati kecilnya, Ipung pun menyadari perbuatannya mengganggu ketertiban umum. Setiap ia berjalan menghampiri kendaraan – kendaraaan yang berhenti, ia selalu dirundung rasa ketakutan. Kalau – kalau Trantib datang dan menggaruknya.
Guru – guru disekolahnya simpati dengan kegigihan Ipung menuntut ilmu sekaligus mencari uang. Sudah banyak guru yang mengusulkan agar Ipung mendapatkan beasiswa, tapi Kepala Sekolah menanganinya dengan lamban. Kegigihan Ipung memang pantas diberikan apresiasi. Seorang anak yang tangguh, tak kenal lelah walau terpanggang sinar matahari dan terguyur derasnya hujan. Matanya tetap berbinar, menunjukkan semangatnya yang tinggi demi menggapai cita – citanya yang tak terlalu tinggi, hanya ingin menjadi orang yang berguna bagi keluarganya dan membahagiakan orangtuanya.
Itulah teman kecilku Ipung. Bocah kecil yang menyenangkan dan memiliki semangat tinggi. Yang mengajariku untuk lebih semangat lagi dalam menjalani kerasnya kehidupan.
Melati Budi Srikandi
31 Mei 2010


















